Kamis, 17 Februari 2022

#NaiPart3#TantanganMenulisHarike19#TantanganMenulisGurusiana

Sebenarnya bukan hal baru bagi Nai untuk belajar sungguh-sungguh, bisa masuk sekolah unggulan ini merupakan hasil kerja kerasnya sedari SMP, sempat terkaget-kaget karena teman-teman SMP pada pintar.

Nai merasa keberuntungan telah membawanya masuk ke SMPN 450, sejak saat itu Nai langsung terpacu adrenalin untuk tidak mengandalkan kebenruntungannya lagi. Belajar dengan giat satu-satunya cara untuk menyeimbangi kepintaran teman-teman semasa SMP.

Semua membuahkan hasil, selepas SMP, Nai bisa masuk sekolah number one di kotanya. 

Nai bahagia karena bisa membuat kedua orang tuanya tersenyum gembira mendapati putri mereka bisa meraih prestasi sejauh itu. 

Nai tiba di lokasi tes, celingak celinguk mencari Diana, sahabat kental sejak SMP. 

"Nai, sini," tiba-tiba ada suara cempreng Diana mengagetkan Nai yang sedari tadi celingukan.

Nai menghampiri Diana yang sudah memegang erat koran yang keseluruhan halaman berisi pengumuman mahasiswa baru. 

"Nih satu buat kamu, ayo kita lihat apakah nama kita ada di sini," kata Diana sambil menyodorkan sebuah gulungan koran.

"Wah udah dibeliin, makasih ya, maaf telat," kata Nai merasa bersalah. 

"Tenang aja, ga papa koq, sengaja aku beliin supaya ga kehabisan," kata Diana sumringah. 

Diana dan Nai khusu melihat angka-angka berupa no peserta, begitu juga ratusan calon mahasiswa baru lainnya tampak serius menatap koran. 

Satu persatu terdengar suara teriakan bahagia karena no pesertanya tertera di koran, ada juga yang masih khusu bolak balik melihat berharap salah lihat nonya tidak ada yang akhirnya merekapun pasrah pada keadaan. 

Nai tertegun karena no pesertanya ada di koran tapi Nai masih menahan diri untuk tidak berteriak karena melihat wajah pucat sahabatnya di sebelah yang sedari tadi membolak balikkan koran. 

"Gimana Nai, nama kamu ada?" Kata Diana dengan suara parau menahan kecewa.

"Alhamdulillah ada, kamu bagaimana? Kata Nai dengan suara pelan untuk menyeimbangkan suasana hati sahabatnya. 

"Namaku ga ada Nai," suara Diana terdengar sambil terisak.

"Kamu yakin? Yuk kita cari lagi berdua," Nai masih berusaha menghibur Diana.

"Aku sudah dua kali mencari tetap no pesertanya tidak ada," kata Diana sambil memendam kecewa mendalam.

"Selamat ya Nai, aku ikut bahagia atas diterimanya kamu di Perguruan Tinggi Negeri yang kamu inginkan," Diana memeluk Nai erat.

Nai tak kuasa menahan air mata haru bahagia dan sedih berpisah dengan sahabat sejatinya.

"Diana, jangan lupakan aku ya kalau aku nanti pergi," kata Nai sambil terisak.

"Ah kamu ada-ada aja, sebaliknyanya juga kamu Nai jangan lupain aku ya, masih ingat no telepon rumahku kan? Telepon aku nanti kalau sudah sampai," Dianapun terisak tak kuat menahan kesedihan.

Acara pertemuan terakhir ini mereka habiskan untuk tidak beranjak dari tempat duduk dengan menghabiskan waktu tersisa sambil ngobrol.

Tak terasa waktu hampir menunjukkan pukul 12 siang, pertanda mereka harus segera pulang saat jam makan siang, apalagi Nai harus segera mempersiapkan segala dokumen untuk registrasi ulang di Perguruan Tinggi nanti. 

Mereka terpisah angkot dengan jurusan yang berbeda, keduanya saling melambaikan tangan sambil menyeka air mata masing-masing.

#NaiPart3
#TantanganMenulisHarike19
#TantanganMenulisGurusiana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar