Senin, 23 Juni 2014

Murobbi

Di Depan Pusara Murabbi

 
By: @mistersigit
 
Di bus malam ini, rasa kantuk menjalari seluruh penumpang. Nyaris seluruh penumpang bus Jakarta-Cirebon tampak lelap. Hanya satu dua yang terlihat memandang keluar jendela, sebagian lain sebentar terbangun untuk menarik resleting jaketnya tinggi-tinggi hingga menutupi leher, lalu kembali tidur. Suara pengamen yang lumayan merdu dengan iringan biola tua justru membuat penumpang semakin larut dalam kantuk, entah kurang perhitungan atau memang pengamen ini ikhlas mengantarkan para penumpang untuk tidur, yang jelas aku yakin lagu Camelia 3 itu membuat pendapatannya berkurang.
 
 
Pengamen itu terlihat kumal. Bibirnya hitam akibat asap rokok. Di kupingnya terlihat tiga buah tindikan besar berwarna warni. Ia mengenakan celana jeans robek dan sepatu kets yang tak kalah buruk. Penampilannya persis diriku lima belas tahun lalu, ketika baru lulus  SMP. Tanpa bermaksud menghakimi pengamen itu, aku dulu adalah anak brandal. Pekerjaanku adalah mengamen dengan paksa, meminta uang kepada penumpang sambil berteriak tanpa satu pun alat musik. Sebetulnya bukan mengamen, tapi memalak. Aku tahu suaraku tak mungkin menghibur. Aku tak segan menunggu untuk memaksa penumpang mengeluarkan uang sekedar seribu dua ribu dengan dalih solidaritas sosial dan kebersamaan. Aku bilang untuk makan, meski aku yakin mereka tahu bahwa uang itu aku habiskan untuk beli rokok dan  minum-minum dengan teman-tean sesama komplotan
Mengingat hari-hari itu dan membandingkannya dengan kini, adalah hal yang selalu membuat aku ingin menangis. Kini bahkan di bus malam ini aku berbaju koko, di tasku ditempel logo One Day One juz, sebuah komunitas pembaca Qur’an yang sedang marak. Mushaf al-Quran selalu ada di dalam tas kemanapun aku melakukan perjalanan sebagai teman terbaik. Berbeda dengan dulu, dimana rambutku kumal, kulit kusut karena jarang mandi. Kemana-mana selalu membawa rokok. Hidupku sangat kacau dan tidak ada rasa tentram dalam hati. Bahkan tak jarang pada masa-masa itu, aku berharap kematian segera datang.
 
 
Sampai akhirnya tiba hari itu. Ketika Tuhan menunjukan kasih sayang-Nya melalui seorang ustadz muda yang membuat hatiku basah, dan membuka jalan hidupku hingga tenteram seperti sekarang. Ia yang selama lima tahun berikutnya menjadi guru ngajiku. Ia yang dengan sabar mengajariku membaca buku iqro meski aku terbata-bata.  Ia yang rela waktu demi waktunya aku sita untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku tentang Tuhan, terutama mempertanyakan keadilan-Nya untuk aku dan keluargaku.
Aku sedang duduk di halte bis pada pertemuan pertamaku dengannya saat itu.Waktu itu aku sudah kehabisan akal dan rasa lapar menusuk ke ulu hati. Aku nyaris mencuri ketika dari balik tikungan ia memberikan nasi kotak berisi rendang nasi padang. “Mas, maaf, nasi kotak ini boleh untuk mas. Kebetulan tadi saya dapat dari seminar.” Tuturnya dengan senyum lembut ketika itu. Bahasanya sopan. Air mukanya bersih dan penuh aura iman. Baju kokonya sudah tidak putih, tapi tetap terlihat bersih. Janggut tipis di ujung dagunya membuatnya terlihat kalem dan alim. Setelah mengucapkan terimakasih, aku makan dengan lahap dan ia duduk didekatku menunggu bis pulang. Disitulah untuk pertama kalinya aku merasakann hatiku gerimis dan dadaku bergetar.
***
 
 
“Bang, partisipasinya bang...” suara pengamen menyadarkanku dari lamunan. Cepat-cepat aku rogoh selembar uang duaribuan untuknya, setelah mengucapkan terimakasih, pengamen itu menyusur ke kursI-kursi belakang. ia tidak seburuk aku dulu.
 
 
Seorang perempuan yang sedang hamil naik di tengah perjalanan. Padahal hari sudah malam. Lelaki di ujung sana yang melihatnya segera bergeser memberi tempat. Perempuan itu duduk bahkan tanpa mengucapkan terimakasih. Mungkin sudah seharusnya.
 
 
Di luar sana, gelap menyelimuti bumi. Seiko KW di lenganku sudah menunjuk pukul sembilan malam lewat lima. Jalanan di luar nampak lengang. Aku memandang jauh keluar jendela, Papan reklame dengan cahaya yang terang memberontak malam yang kelam, menyilaukan mataku.
***
Yang membuat hatiku gerimis sewaktu pertemuan pertama dengan lelaki yang kemudian aku panggil Ustadz itu adalah ketika ia menanyakan kabar keluargaku. Pertanyaannya itu membuat aku serta merta teringat ibu di kampung. Sekalipun hidupku hancur, Ibu bagiku tetaplah ibarat nyawa. Ia adalah harta satu-satunya yang aku punya. Ayahku sudah meninggal ketika aku kecil, dan aku satu-satunya pewaris keluarga. Pewaris kesusahan dan kemiskinan. Setiap ingat ibu aku selalu bergetar. Rasa sayang dan cintaku untuknya berderai-derai. Pakaian ibuku adalah kesusahan dan kemiskinan. Miskin dan keras sudah menyatu dalam hidupnya, menjadi nafas dan nyawanya. Ia yang berhutang kesana kemari untuk memberiku ongkos sekolah pagi hari. Ibu bagiku adalah dasar lautan terdalam. Sekalipun di dunia ini ada lautan yang paling dalam, cinta ibu kepadaku jauh lebih dalam.  Jika gunung tinggi menjulang, cinta ibu padaku lebih menjulang. Itulah kenapa sekalipun aku brengsek, selalu ibu yang mengerik punggungku ketika aku sakit dengan uang logam dan minyak tanah sampai aku tertidur. Tak sekali dua kali dalam momen seperti itu aku mendengar untaian doa dan harapannya ketika aku hendak lelap. “Gusti, berikan jalan pada anakku untuk mengenal agama...” doanya sederhana. Agar aku mengenal agama. Tiba-tiba mataku berlinang air mata...
 
 
Ibuku memang tak kenal agama terlalu baik. Hanya saja ia sangat hormat pada pak kyai dan selalu sholat lima waktu meski di kemudian hari aku tahu bacaannya berantakan. Tak masalah bagiku, karena kesusahan dan kemiskinan sudah cukup menjadi cara Tuhan untuk mencintainya. Dengan sabar yang dijalani ibu dalam kesusahan itu, Tuhan akan mencintainya..  
 
 
Pertanyaan Ustadz berwajah teduh itu menyentak hatiku, dan entah mengapa aku tiba-tiba ingin memperbaiki diri...
***
 
Sejak obrolan pertama itu lantas aku mulai tertarik untuk mengaji pada ustadz muda bernama Hisyam itu. Belajar mengeja mulai dari IQRO satu. Aku membaca a-ba-ta-tsa dengan tertatih, tapi kemajuanku cukup pesat. Sekalipun brandal, otakku memang cukup encer sejak kecil.
Aku mengaji setiap malam senin. Aku absen tidak ikut nongkrong di perempatan Cibinong hanya setiap malam senin. Malam-malam lainnya aku masih malak di dalam bis bis bersama teman-teman nongkrong. Masih merokok dan tak jarang minum-minuman keras.  Tertawa dan menggoda cewek-cewek lewat. Ustadz Hisyam tak pernah memaksa aku untuk berhenti. Ia hanya mengajari aku ngaji yang kemudian aku kenal dengan istilah halaqah. Pembinaan sepekan sekali itulah yang membuat hatiku lambat laun terwarnai oleh nilai-nilai Islam. Ustadz Hisyam bercerita bagaimana perjuangan Nabi ketika menyebarkan Islam, ketika memimpin perang, juga ketinggian akhlak beliau. Ustadz muda itu juga berkisah tentang para shahabat ketika mendapatkan ujian, tak sedikit di antara mereka merupakan kaum miskin sepertiku. Amar bin Yassir dan bilal bin Rabah adalah dua nama yang paling kukenal. Tapi tentu paling menarik adalah Umar bin Khattab. Aku paling suka karena Shahabat Umar dikenal kuat dan tak punya rasa takut kepada musuh. Untuk seorang anak jalanan seperti aku, sifat Umar tentu sangat heroik.
 
 
Aku tak pernah bosan halaqah dengan ustadz hisyam. Ia mengajariku akhlak yang baik. Ngaji dengannya tak hanya ceramah, tapi sikap kesehariannya adalah Islam itu sendiri. Ia berasal dari keluarga sederhana, mungkin cenderung miskin dibanding para ustadz lainnya. Pernah suatu kali dalam sebuah demonstrasi di Monas, kaos ustadz hisyam adalah yang paling kumal di tengah ribuan pendemo yang mengenakan pakaian putih. Ia sederhana. Satu pagi ia mengayuh sepeda untuk sekedar memberitahu, “akhi, nanti jam setengah tujuh ada demo di Bundaran HI. Antum jangan tidak datang, ya.”

Selepas itu ia kembali mengayuh sepeda ke rumahnya di kecamatan sebelah.  Ia tak pernah mengeluhkan kemiskinan sepertiku, ia katakan bahwa kekayaaan sebenarnya bukan  pada harta tapi ada pada hati.
 
 
“akhi, lapangkanlah hatimu. Lapang, selapang sabana. Sekalipun di sana ada gajah, harimau, jerapah, sabana itu akan tetap terlihat luas. Tetapi jika hatimu sempit, sesempit kamar-kamar tidur, jangankan gajah, seekor ayam akan membuatnya sempit. Luaskanlah hatimu. Luas, seluas samudera. Sebanyak apapun sampah masuk dari sungai-sungai di muara, ia akan tetap jernih. Tetapi jika hatimu sempit, sesempit air di dalam gelas, jangankan sampah dari sungai, setetes tinta dari pulpen akan membuatnya kotor.
 
 
Masalah itu rupanya bukan di luar, tapi ada pada hati kita, di sini” katanya suatu kali seraya mendekapkan tangan ke dada.
Bagaimana mungkin aku tak hormat pada sosok ustadz sederhana dan ikhlash seperti itu? Untuk itulah malam ini, sebelum masuk Bulan Ramadhan, aku bertolak ke Cirebon, mengobati rindu tak tertahankan yang meluap-luap dalam dadaku. Sudah tak jumpa sepuluh tahun semenjak ia pindah dari Bogor ke Cirebon, ingin rasanya bersilaturrahim dan mengucapkan terimakasih karena membuka jalan bagi hidupku untuk lebh baik.
Kini aku sudah mengenal agama jauh lebih baik, aku mempunyai dua kelompok binaan yang semuanya anak-anak jalanan. Dalam beberapa acara tatsqif aku kerap menggantikan narasumber yang berhalangan, juga mengisi acara-acara outbound dalam kapasitasku sebagai seorang kepanduan.
Malam semakin larut, aku mulai mengantuk..
***
 
Pagi ini aku terpaku...
Aku terpekur di samping sebuah pusara seorang ustadz yang sangat aku cintai.
 
Aku duduk menangis dan tak henti mengirim doa. Lisanku terus menerus mengirim fatihah untuknya..
Aku teringat ucapan lirih terakhir ustadz Hisyam pada halaqah perpisahan itu. “Akhi, do’akanlah ana dalam sujud-sujud antum, sebagaimana ana pun mendoakan antum dalam sujud-sujud ana..”
 
Aku paham bahwa rumus kehidupan hanya dua: meninggalkan atau ditinggalkan. Tapi aku merasa begitu berat untuk menerima kenyataan bahwa ustadz yang telah mengenalkan aku ke dalam dekapan hidayah telah kembali kepada-Nya, terbaring di balik tanah ini... semoga antum mendapatkan apa yang seharusnya antum dapatkan,ya ustadzunal kiram... Almahbuub..
 
Beberapa waktu lalu aku sempat merasa semangatku turun sama sekali. Bersamaan dengan semangat ikhwah lain yang juga turun. Aku sungguh khawatir menjadi orang-orang yang runtuh ketika yang lain tetap teguh. Menjadi bagian yang terkapar ketika yang lain berusaha tetap tegar.. Aku mengkhawatiri diriku termasuk ke dalam mereka yang berguguran di jalan dakwah..
 
Militansi  yang turun itu kemudian berakibat pada rendahnya intensitas kehadiranku dalam halaqah. Lama-lama aku mulai terlalu kritis bahkan curga pada setiap kebijakan qiyadah.. bahkan mungkin terlalu sinis.. aku merasa berada pada jalan yang benar dan satu-satunya yang objektif.. qiyadah sempat kupandang sebagai  bagian dari  kelompok yang naif..
 
Tapi aku teringat nasehat ustadz Hisyam untuk menengok hati, dan aku sadari sikap sinis dan lemahnya militansiku dalam dakwah adalah akibat dari lemahnya imanku... dari rendahnya qiyamullail yang kian jarang .. dari tilawah yang terus tergerus, dari dzikir yang tak lagi terukir.. dari sujud yang tak lagi syahdu...
 
Justru lemahnya iman yang membuat semangatku lemah, lalu lama-lama aku hanya menjadi pengamat dakwah.. tanpa kontribusi..
Pagi ini aku semakin sadari   Murabbi yang terus menerus hidup di dalam hatiku..
Aku masih terduduk, membayangkan senyumnya ketika bergurau dalam halaqah..
Dan membayangkan airmatanya ketika memimpin doa rabithah..
Lalu aku menginsafi diri, atas kelemahan iman serta kontribusiku dalam dakwah..
..
(Menunggu Pesawat di Bandara Hang Nadim, 14/06/14)

Jumat, 20 Juni 2014

Hadist

Hikmah hadist ke 24

Perbedaan Hadist Qudsi dengan Al Qur'an

Baca Qur'an ~~~~ jadi ibadah

Hadist ~~~~~~ tidak ibadah

Setiap ayat dan huruf, al Qur'an pasti kebenarannya, hadist ada yang mutawatir dan dhaif, lafaz dan makna Q diriwayatkan dari Allah SWT, QS Qiyamah "dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka ikuti, kewajiban Allah lah untuk menjelaskan dan menafsirkannya, qudsi maknanya saja dari Allah sedangkan lafaznya dari Rasulullah, dalam sisi hukum sama jika wajib jadi wajib, sunah jadi sunah dsb, ke dzaliman adalah menempatkan sesuatu diluar batas (pinjam uang 100 diganti 50) atw melampaui batas (pinjam 1 minggu, bayar 2 minggu kemudian). "Sesungguhnya kedzaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat.

Kedzaliman dibagi 2:

1. Dzalim kepada dirinya sendiri. Dzalim yang tidak melibatkan orang lain, nabi Adam "Robbana dzolamna anfusana" Ya Allah aku telah dzalim pada diri sendiri.

2. Dzalim kepada orang lain, diharamkan oleh Allah.

Kedzaliman adalah dosa yang sangat besar. Ada 2 dosa yang Allah cepatkan azab di dunia yaitu anak yang durhaka dan yang dzalim. Sedngkan dosa akan ditangguhkan di akhirat.

Syarat tobat:

1. Menyesal
2. Tidak diulang
3. Bersungguh2
4. Jika berkaitan dengan orang lain, Allah tidak akan memaafkan jika orang yang terdzolimi belum memaafkan.

Setiap manusia punya kesalahan.

Ad Dzariat : 56 - 57

Segala sesuatu yang tidak dibatasi oleh syariat, berdo'lah kepada Allah "kulhuwallah hu ahad, Allahushomad, bergantunglah kepada Allah.

Yang dibatasi oleh syariat misalnya berdo'a pengen jadi nabi, pengen jadi malaikat dll.

Yang baik Allah balas dngan kebaikannya, yang jelek Allah balas dengan kejelekannya. 

Allah SWT mengharamkan kedzaliman walaupun mampu, membalasnya dwngan adil.

Ber'doalah kepada Allah

Beramal sholeh

  

Kamis, 19 Juni 2014

Manusia Langit

Copas dri ust.Ahmad Hanafy D.Y.

Manusia Langit yang Tak Kita Kenal

By Ibnu Abdil Barhi 
| January 1, 2014

Sekali-kali jangan pernah merasa diri lebih tinggi-lebih besar-lebih fakih-lebih berilmu-lebih banyak amalnya, karena kita tidak tahu orang di sekeliling kita; bisa jadi biasa-biasa saja, berpenampilan sederhana, bahkan di masyarakat hanya dipandang sebelah mata, tetapi ternyata dia berhati mulia, dan termasuk pribadi bertakwa, di sisi-Nya.

Ada cerita indah dan menarik, sekaligus menakjubkan menurut saya, ketika membaca kisah yang dituliskan oleh Salim A. Fillah dalam bukunya, “Barakallahu laka, Bahagianya merayakan cinta.” pada hal. 448-449.

Tulisnya dalam buku itu, “Suatu malam, Ustadz Muhammad Nazhif Masykur berkunjung ke rumah. Setelah membicarakan beberapa hal, beliau bercerita tentang tukang becak di sebuah kota, di Jawa Timur.

”Salim melanjutkan, “Ini baru cerita, kata saya. Yang saya catat adalah, pernyataan misi hidup tukang becak itu :
1. Jangan Pernah Menyakiti;
2.Hati-hati Memberi Makan Istri.

“Antum pasti tanya,” kembali Salim melanjutkan ceritanya sembari menirukan kekata ustadz Muhammad, “tukang becak macam apakah ini sehingga punya mission statement segala? Saya juga tertakjub dan berulang kali berseru, “Subhanallah!” mendengar kisah hidup bapak berusia 55 tahun ini. Beliau ini Hafizh Qira’at Sab’ah!!! Beliau menghafal Al-Qur’an lengkap dengan tujuh lagu qira’at seperti saat ia diturunkan; qira’at Imam Hafsh, Imam Warasy, dan lainnya.”

“Dua kalimat itu sederhana. Tetapi bayangkanlah sulitnya mewujudkan hal itu bagi kita. Jangan pernah menyakiti. Dalam tafsir beliau di antaranya adalah soal tarif becaknya. Jangan sampai ada yang menawar, karena menawar menunjukkan ketidakrelaan dan ketersakitan. Misalnya ada yang berkata, “Pak terminal 5000 ya” terus dijawab, “Waduh, nggak bisa, 7000 mbak”, namanya sudah menyakiti. Makanya beliau tak pernah pasang tarif. “Pak terminal 5000 ya” jawabnya pasti OK. “Pak terminal 3000 ya” jawabnya juga OK, bahkan kalau, “Pak terminal 1000 ya” jawabnya juga sama, OK.

Gusti Allah! Manusia macam apa ini.

Kalimat kedua, hati-hati memberi makan istri, artinya sang istri hanya akan makan dari keringat dan becak tuanya. Rumahnya berdinding gedheg. Istrinya berjualan gorengan. Stop. Jangan dikira beliau tidak bisa mengambil yang lebih dari itu. Harap tahu, putra beliau dua orang. Hafizh Qur’an semua. Salah satunya sudah menjadi dosen terkenal PTN terkemuka di Jakarta. Adiknya, tak kalah sukses. Pejabat strategis di pemerintah baru sekarang.Uniknya, saat pulang, anak-anak sukses ini tak berani berpenampilan ‘wah’. Mobil ditinggal beberapa blok dari rumah. Semua asesoris diri; arloji, handphone dilucuti. Bahkan baju parlente diganti kaos oblong dan celana sederhana. Ini adab, tatakrama.

Sudah berulangkali sang putra mencoba meminta bapak dan ibunya ikut ke Jakarta. Tetapi tidak pernah tersampaikan. Setiap kali akan bicara serasa tercekat di tenggorokan, lalu mereka hanya bisa menangis. Menangis. Sang bapak selalu bercerita tentang kebahagiaannya, dan dia mempersilakan putra-putranya untuk menikmati kebahagiaan mereka sendiri.

Salim melanjutkan, “Waktu saya ceritakan ini pada istri di Gedung Bedah Sentral RSUP Dr. Sardjito keesokan harinya, kami menangis. Ada banyak kekasih Allah yang tak kita kenal….,

”Ah, benar sekali; banyak kekasih Allah dan 'manusia langit'  yang tidak kita kenal.

Al Quran

Copas dari group sebelah :

Bukan Hanya sekedar Kholas
Ato selesai 10 halaman
Ngaji ikut2an
Karena lagi demam ODOJers
Ato membusungkan dada
Karena bagian dari komunitas Indonesia Mengaji

BUKAN SEKEDAR ITU

saat diri ga yakin bisa mengaji 1 juz dan ternyata bisa...
Ada rasa aneh dlm diri

Saat mata melirik terjemahan salah satu ayat...dan muka ini memerah..kr seakan ayat itu menyindir kita

Apa jadinya jika hari di awali dg menyesaikan 1 juz
Ato tidur dg senyum senyum karena ada rasa bahagia dg kholas

Tidakkah terpikir jika lantunan tilawah yg ga seberapa bagus..dan entah tepat ato tidak tajwid nya..
Ternyata membuka lebar BarokahNya...menerangi kubur kita kelak...
Membuat damai hati yg ada di dalam rumah...membuat rumah terasa nyaman..

Bagaimana seandainya suami ato istrimu merasa kembali jatuh cinta karena hatinya tergetar saat mendengar lantunan ayat2 suci dr mulutmu...

Apa jadinya jika anak2mu tiap hari mendengar ayah ibunya bertilawah..melantunkan ayat2 Allah..

Bahkan tidak terpikir kl huruf demi huruf di hitung Allah sebgai point yg tak 1 pun terlewat tuk di catat

Ini Bukan sekedar Kholas
Lebiiih dari selesai 10 lembar
Ini tentang kehidupan
Kini dan nanti
Dunia dan akhirat

Cintai Qur'an..maka akan dtg cinta sejati

QUR'AN DI HATIMU
DUNIA DI TANGANMU

Iri

 Dari Ibnu Umar bwh Nabi saw bersabda : " Tidak boleh iri kecuali dlm 2 perkara,yaitu : pertama,seseorang yg ALLAH karuniakan keahian thd Al Quran lalu ia senantiasa membacanya di wkt siang & malam hari ,kedua,seseorang yg ALLAH karuniakan keluasan harta lalu ia menginfakkannya di wkt siang&malam hari " (Muttafaqun 'alaih) 

Al Qur'an

��Reminder for us��

�� Tips n trik
Kholas sebelum deadline��

�� 1 juz bisa kholas ±60menit
�� 1 juz 10 lembar
�� 1 lembar  ± 6 menit
�� ¼ juz ±15 menit
�� ½ juz ± 30 menit

��������������

So jika kita sibuk bangeeet luangkan waktu ±6 menit buat kholasin 1 lembar di sela-sela kesibukan kita. IN SYAA ALLAH BISA!!
�� Jangan mbiasakan ngerapel 1 juz �� 1 jam di akhir-akhir waktu deadline karena kita tidak tahu apa umur kita bisa sampai di waktu itu untuk tilawah...

��semoga bermanfaat...

Do'a Khatam

Selesai   sudah    tilawah    kita    hari   ini  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Mari kita aminkan doa khatmil quran

Allahummarhamna Bil Quran
Waj’alhulanna Imaaman Wa Nuuran Wa Huda Wa Rohmah
Allahumma Dzikkirna Minhu maa Nasiiha
Wa’allimna Minhu maa Jahiilna
Warzuqna Tilaawatahu
Aana Al Laili Wa Aana An Nahaari
Waj’alhulanna Hujjatan
Yaa Rabbal ‘Alamin

Ya Allah Kasih Sayangilah kami
dengan sebab AlQuran ini
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai pemimpin
sebagai cahaya
sebagai petunjuk
dan sebagai rahmat bagi kami

Ya Allah ingatkanlah kami
apa-apa yang kami lupa dalam AlQuran
yang telah Kau jelaskan
dan ajarilah apa-apa yang kami belum mengetahui
Dan karuniailah daku
selalu sempat membaca AlQuran
pada malam dan siang hari
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai hujjah bagi kami

Ya Allah Tuhan semesta alam

اَللَّهُمَّ إِنَّا عَبِيْدُكَ بَنُوْ عَبِيْدِكَ، بَنُوْإِمَائِكَ،
نَوَاصِيْنَا بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيْنَا حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيْنَا قَضَاؤُكَ،
نَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ،
أَوِاسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا، وَجَلاَءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُوْمِنَا وَغُمُوْمِنَا، وَسَائِقَنَا وَدَلِيْلَنَا إِلَى جَنَّاتِكَ جَنَّاتٍ النَّعِيْمِ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah, sesungguhnya kami adalah hamba-hamba-Mu, anak hambalaki-lakiMu,
anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubun kami berada pada kekuasaan-Mu.
berlaku kepada kami hukum-Mu, Adil terhadap kami keputusan-Mu. Kami memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang dengannya Engkau namakan diri-Mu, atau yang telah Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang telah Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan
Al-Quran yang mulia sebagai penyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, pelipur kesedihan kami, pelenyap kesusahan dan kegundahan kami, pengemudi dan penunjuk kami menuju surga-Mu, surga yang penuh kenikmatan, dengan
rahmat-Mu Wahai Dzat yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.

آمِينَِ يَارَبَّ الْعَالَمنَِ

Al Qur'an

DLM SEHARI...KITA SERING MANA, MAKAN ATAU BACA QUR'AN?
[4:33 PM 19/06/2014] ‪+62 812-9008-1531‬: Baca kanan ke kiri

Masa itu, saya dalam kondisi pengobatan. Trigliserid 3 kali lipat dari batas normal membuat saya sering meradang sebab vertigo. Dunia seperti jungkir balik dan saya pun berobat dengan seorang professor. Hasilnya, ada beberapa obat yang perlu dikonsumsi dan diet beberapa jenis makanan terlarang sesaat. Saya dianjurkan untuk banyak konsumsi buah dan sayuran. Saya pun 'terpaksa' nurut demi kesembuhan.

Masih teringat jelas saat suatu pagi saya diminta berceramah. Di sebuah keluarga berada di daerah Radio Dalam, Jakarta. Usai acara saya dipersilakan menikmati makanan. Saya pun menyambut ajakan tuan rumah. Sebelum tiba di meja makan prasmanan, saya persilakan seorang yang 'paling sepuh' di sana utk mengambil jamuan. Maka 'kakek' itu mengambil makanan dan saya berdiri kedua dalam giliran.

Saya menyaksikan betapa sang kakek mengambil semua makanan yg disajikan. Tidak ada yang terlewat, sementara saya hny mengambil sayur dan buah. Usai mengambil makanan, sy sengaja duduk di sisi beliau. "Masya Allah....!" Saya berdecak kagum melihat piring beliau 'munjung' dengan makanan. Sementara saya yang jauh lebih muda hanya seperempat piring saja terisi sayur dan buah. Terus terang saya merasa iri kepadanya.

Saat duduk di sampingnya, saya berujar, "Belum ada pantangan makan ya pak?!" Beliau tersenyum dan berkata, "Coba ustaz terka berapa umur saya...?!"

Saya menjawab dgn senyum seraya menerka, "Enam puluh tiga... Enam puluh lima... Enam puluh tujuh..." Anehnya, setiap kali saya coba menerka umur, beliau selalu menggeleng dan tersenyum sambil berkata bahwa terkaan saya salah.

Tiga kali saya menerka selalu salah. Demi Allah, paras tubuhnya memberi isyarat kepada saya bahwa umur beliau belum lebih dari kisaran 60-an. Hingga saya mulai menampakkan mimik bingung di wajah. Rupanya si kakek menikmati permainan tebak umur itu dengan saya.

Dalam kebingungan yang saya alami, beliau tetap tersenyum dan mulai menjelaskan dgn ujarnya, "Coba ustaz lihat di rambut kepala saya... Adakah uban di sana...? Kacamata yang saya pakai ini bukan minus atau plus. Mata saya masih awas dan terang, Alhamdulillah. Ini saya gunakan hanya untuk menangkal sinar terik matahari.... Umur saya Alhamdulillah baru 83 tahun!!!"

Saya terperanjat mendengar ujar beliau. Gak masuk akal bagi saya umur beliau 83 tahun tanpa uban di kepala. Sementara saya yang berusia 30-an sudah banyak sekali uban bertabur. Apalagi saya menggunakan kacamata minus tebal. Merasa tertarik dengan fakta ini saya kejar beliau dgn tanya menyusul, "Apa resepnya bisa hidup sehat, pak?!"

Beliau tersenyum dan membalas tanya saya dengan sebuah pertanyaan, "Ustaz, suka baca Alquran?!" Saya merasa aneh dengan pertanyaan ini. Dalam batin saya berkata, "saya ini ustaz... Masa ditanya kayak begituan?!" Saya jawab beliau, "Ya, saya suka baca Alquran!"

"Berapa kali dalam sehari...?" Kejar beliau. "Minimal sekali dalam sehari. Rutin ba'da subuh saya membacanya" ujar saya.

"Oooo...., cuma sekali. Jadi lebih banyak makan dong daripada baca Alquran?!" lanjutnya.
Terus terang saya merasa terhina dgn ucapan beliau. Tapi refleks saya langsung bertanya, "Apa hubungan baca Alquran dengan hidup sehat dan awet muda?!"

Beliau jawab pertanyaan saya dengan bijak kali ini sambil menjelaskan, "Ustaz...., sampai kini guru saya msh hidup. Beliau tinggal di Sumatera Barat. Umur beliau saat ini 97 tahun, dan Alhamdulillah kemanapun ia masih menyetir mobil sendiri. Beliau sehat di usianya yang senja... Resep ini saya dapat dari beliau. Resep yg amat mudah dan simple; yaitu Memperbanyak baca dari kanan ke kiri bukan sebaliknya...."

Subhanallah... Saya bergumam. Kagum dan syukur saya mendapat sebuah ilmu berharga tetang kesehatan dari seorang kakek di siang itu. Saat itu saya baru menyadari sebuah hikmah mengapa Allah pilih bahasa arab untuk Alquran. Rupanya ayat 2 dalam surat Yusuf yang sering saya baca, baru kini saya mengerti salah satu hikmahnya.

Selamat hidup sehat dengan Alquran, ukhti fillah... 

Menjelang Ramadhan

RENUNGAN JELANG RAMADHAN

Ketika Rasullullah sedang berkhotbah pada suatu Sholat Jum'at (dalam bulan Sya'ban), beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Aamin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Aamin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Aamin sampai tiga kali.
Ketika selesai sholat jum'at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan:
"Ketika aku sedang berkhotbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah aamin-kan do'a ku ini," jawab Rasullullah. Do'a Malaikat Jibril itu adalah sbb:
"Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
- Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
- Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri;
- Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
"Maka Rasullah pun mengatakan Aamin sebanyak 3 kali.

Wallahualam bishowab

Tiada yang sempurna ,kecuali Allah Yang Maha Kuasa
Tiada yang kekal makhluk didunia
Salah dan dosa pasti ada diantara kita
Pintu ma'af adalah jalan ke syurga
Allah Maha Pengampun terhadap makhluknya
Ungkapan yang tulus dari lubuk hati terdalam
Ramadhan sudah diambang pintu,
Jika Allah berkehendak insyaAllah kita akan menemui Ramadhan penuh barokah.
Semoga gelar taqwa Insya Allah akan menjadi milik kita yang berharga sebagai modal langkah kita selanjutnya
Salah paham, kesedihan, ego, sakit hati, adalah prosesdari kehidupan kita.
Semoga dengan puasa mempertemukan kita dengan Keagungan Lailatul Qadar dan kita semua menjadi pilihanNya untuk dikabulkan do'a-do'a dan kembali menjadi fitrah
Aamiin ya Rabbal 'Aalamiin..

Minggu, 08 Juni 2014

Aning "Ubleg Dapur"

Numpang promo ya "Ubleg Dapur Rumahan" : Sedia aneka cemilan frozen/siap goreng tanpa bahan pengawet,tp bs bertahan 1-2minggu dilemari pendingin. 1 bulan difrezer...cucok bwt cemilan keluarga, tamu yg dtg..isi 1 pack 10 pcs
A. Risoles
1. Risoles sayur @12ribu
2. Risoles ayam sayur 13ribu
3. Amris (american risoles) mayo+keju/daging asap/sosis 15ribu
4. Amris mayo+keju/daging asap/sosis+telur 18ribu
5. Rougut sayur 12ribu
6. Rougut ayam sayur 13 ribu

B. Pastel goreng/oven
1. Isi bihun sayur 12 ribu
2. Isi sayuran 12cribu
3. Ayam sayur 13 ribu
4.sayuran+telur 13 ribu
(Free sambal kacang)

C. Misoa
1. Misoa sayur 12 ribu
2. Misoa ayam sayur 13 ribu
3. Misoa telur puyuh 15 ribu
4. Misoa kornet 15 ribu

D. Bitterballen
1. sosis 15 ribu
2. Keju 15 ribu
3. Kornet 15 ribu
4. Keju+sosis 18 ribu
5. Sayuran 12 ribu

E. Sosis solo
1. Daging cincang 20ribu
2. Ayam 17 ribu

F. Aneka martabak
1. Jagung manis 12ribu
2. Sayuran 12 ribu
3. Kentang ayam 15ribu
4. Telur 15 ribu
(Menyediakan aneka kue lainnya dan kue tampah hrg mulai 50ribu-325ribu) n Bandeng presto @23 ribu
Hubngi aning: 087770097606 pin bb 2ac58d2e
(Free delivery Bogor kota only)

Sabtu, 07 Juni 2014

Al wala' wal bara'

Al Wala’ Wal Bara’

Loyalitas dalam Islam (Al-Wala’)

Sumber: www. dakwatuna.com

Bukti keimanan seseorang adalah adanya amal nyata dalam kehidupan sehari-hari oleh karena iman bukan sekadar pengakuan kosong dan “lip service” belaka, tanpa mampu memberikan pengaruh dalam kehidupan seorang Mukmin. Selain merespon seluruh amal islami dan menyerapnya ke dalam ruang kehidupannya. Seorang Mukmin juga harus selalu loyal dan memberikan wala’-nya kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia harus mencintai dan mengikuti apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi seluruh perbuatan yang dilarang.

Perhatikan firman Allah berikut ini.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (al-Maa`idah: 54-55)

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya,’ jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran: 31-32)

Di sisi lain, seorang Mukmin tidak boleh loyal dan cinta terhadap musuh-musuh Islam.

Oleh karenanya, dalam beberapa firman-Nya, Allah mengingatkan orang-orang beriman tentang hal ini.

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” 
(Ali ‘Imran: 28)

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka, janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.”

(an-Nisaa`: 89)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

 (al-Maa`idah: 51)

Oleh karena itu, setiap Muslim harus memahami dengan baik tentang konsep al-wala’ dalam perspektif Islam.

DefinisiSecara etimologi, al-wala’ memiliki beberapa makna, antara lain:

‘mencintai’, ‘menolong’, ‘mengikuti’ dan ‘mendekat kepada sesuatu’. Ibnu al-A’rabi berkata, “Ada dua orang yang bertengkar, kemudian pihak ketiga datang untuk meng-ishlah(memberbaiki hubungan). Kemungkinan ia memiliki kecenderungan atau wala’ kepada salah satu di antara keduanya.

”Adapun maula memiliki banyak makna, sebagaimana berikut ini.“

Ar-Rabb, Pemilik, Sayyid (Tuan), Yang Memberikan kenikmatan, Yang Memerdekakan, Yang Menolong, Yang Mencintai tetangga, anak paman, mitra, atau sekutu, Yang Menikahkan mertua, hamba sahaya, dan yang diberi nikmat. Semua arti ini menunjukkan arti pertolongan dan percintaan.”
(Lihat Lisanul-Arab, Ibnu Mandzur, 3/985-986)

Selanjutnya, kata muwaalah adalah anonim dari kata mu’aadah‘permusuhan’ dan kata al-wali adalah anonim dari kata al-aduw‘musuh’.

Perhatikan beberapa ayat di bawah ini.

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.” (Muhammad: 11)

“Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 45)

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)

Dalam terminologi syariat, al-wala’ bermakna penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang disukai dan diridhai Allah, berupa perkataan, perbuatan, keyakinan, dan orang (pelaku).

Jadi, ciri utama orang Mukmin yang ber-wala’ kepada Allah SWT adalah mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah. Ia mengimplementasikan semua itu dengan penuh komitmen.

Kedudukan Aqidah Wala’Akidah al-wala’ ini memiliki kedudukan yang sangat urgen dalam keseluruhan muatan Islam.

Pertama, ia merupakan bagian penting dari makna syahadat. Maka, menetapkan “hanya Allah” dalam syahadat tauhid berarti seorang Muslim harus berserah diri hanya kepada Allah, membenci dan mencintai hanya karena Allah, lembut dan marah hanya kepada Allah, dan ia harus memberikan dedikasi maupun loyalitasnya hanya kepada Allah.

“Katakanlah, sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (al-An’aam: 162)

“Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Allah telah menurunkan) kebaikan.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (an-Nahl: 30)

Kedua, ia merupakan bagian dari ikatan iman yang kuat. Rasulullah saw. bersabda,“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”
 (HR Ahmad dalam Musnadnya dari al-Bara’ bin ‘Azib)

Ketiga, ia merupakan sebab utama yang menjadikan hati bisa merasakan manisnya iman.

Rasulullah saw. bersabda

,ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ“

Ada tiga hal yang apabila seseorang mendapatkan dalam dirinya, niscaya ia akan merasakan manisnya iman: hendaklah Allah dan Rasulnya lebih ia cintai daripada dirinya sendiri; hendaklah ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah; hendaklah ia benci kepada kekufuran seperti bencinya untuk dilemparkan ke dalam neraka setelah Allah menyelamatkannya daripadanya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Keempat, ia merupakan tali hubungan di mana masyarakat Islam dibangun di atasnya.“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”(al-Hujuraat: 10)

Rasulullah saw. bersabda, “Cintailah saudaramu sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri.” (HR Ahmad dalam Musnadnya)

Kelima, pahala yang sangat besar bagi orang yang mencintai karena Allah. Rasulullah saw. bersabda,الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلَالِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمْ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ“Orang-orang yang saling mencintai karena kemuliaan-Ku (Allah) akan berada di atas mimbar dari cahaya pada hari kiamat di mana para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR at-Tirmidzi)“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, di mana pada hari itu tiada naungan kecuali naungan-Nya. (Di antara mereka) adalah dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena Allah.”(HR Muslim)Keenam, perintah syariat untuk mendahulukan akidah al-wala’ini daripada hubungan yang lain.قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”(at-Taubah: 24)Ketujuh, mendapatkan walayatullah.“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)Kedelapan, akidah ini merupakan tali penghubung yang kekal di antara manusia hingga hari kiamat. Allah berfirman,“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.”Al-Baqarah:166.———oOo———–

Loyalitas dalam Islam (Al-Wala’) (bag. 2)

Sumber: www.dakwatuna.comBerdasarkan beberapa ayat dan hadits, aqidah al-wala’ dan al-bara’ merupakan suatu kewajiban yang harus ditegakkan dalam syariat Islam. Ia merupakan salah satu konsekuensi dan syarat sahnya syahadat. Seorang Muslim tidak mungkin lepas dari akidah ini dalam setiap dimensi kehidupannya. Ia harus mencintai Allah SWT, Rasul, dan hamba-hamba yang beriman, dengan segala pengorbanannya. Pada saat yang sama, ia harus menegakkan permusuhan terhadap kekufuran dan manusia-manusia yang mendukung kekufuran tersebut. Perhatikan ayat-ayat Allah berikut ini.“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”(At-Taubah: 24)ž“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Bara’ngsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran: 28)ž“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (Al-Mujadilah: 22)لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ“Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, bapaknya, dan seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘Alaih)مَنْ جَامَعَ الْمُشْرِكَ وَسَكَنَ مَعَهُ فَإِنَّهُ مِثْلُهُ“Barangsiapa yang berkumpul dengan orang musyrik dan tinggal (merasa tenang) dengannya, maka ia sama dengannya.”(HR Abu Daud dari Samurah bin Jundub)Hak-Hak LoyalitasAda beberapa hak yang berkaitan dengan akidah al-wala’ dalam syariat Islam, sebagaimana penjelasan berikut.Pertama, hijrah, yaitu hijrah dari negeri kafir ke negeri muslim, kecuali bagi orang yang lemah atau tidak dapat berhijrah karena kondisi geografis dan politik kontemporer yang tidak memungkinkan. Allah berfirman,“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab, ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).’ Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau perempuan, ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (An-Nisa: 97-99)Kedua, membantu dan menolong kaum muslimin dengan lisan, harta, dan jiwa di manapun ia berada dan dalam semua kebutuhan, baik dunia maupun agama. Allah berfirman,“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Anfal: 72)الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ“Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain bagaikan bangunan yang sebagian menyangga sebagian yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا“Tolonglah saudara kamu baik yang melakukan kezhaliman atau yang dizhalimi.” (HR Bukhari)الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak meremehkannya, tidak menghinakannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh).” (HR Muslim)Ketiga, terlibat dalam harapan-harapan dan kesedihan-kesedihan kaum Muslimin. Rasulullah saw. bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum Muslimin dalam cinta, kekompakan, dan kasih sayang bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh juga ikut menjaga dan berjaga.” (HR Bukhari)Keempat, hendaklah ia mencintai saudara Muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, baik berupa kebaikan maupun menolak keburukan. Ia wajib menasihati mereka, tidak menyombongkan diri dan atau mendendam terhadap mereka.Kelima, tidak mengejek, melecehkan, mencari aib, dan ber-ghibah serta menyebarkan namimah terhadap sesama kaum Muslimin.“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan)yang buruk sesudah iman, dan bara’ngsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.”(Al-Hujurat: 11-12)Yang dimaksud dengan ‘jangan mencela dirimu sendiri’ ialah mencela antara sesama mukmin karena orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Dan ‘panggilan yang buruk’ ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti “Hai, Fasik”, “Hai, Kafir,” dan sebagainya.Keenam, mencintai kaum Muslimin dan berusaha untuk berkumpul bersama mereka. Rasulullah saw. bersabda, “Adalah wajib bagiku mencintai orang-orang yang saling menziarahi.”(HR Ahmad)“Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR At-Thabrani)“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)Ketujuh, melakukan apa saja yang menjadi hak kaum Muslimin, seperti menjenguk yang sakit atau mengantar jenazah, tidak curang dalam bergaul dengan mereka, tidak memakan harta mereka dengan cara yang batil, dan lainnya. Rasulullah saw. bersabda,“Barangsiapa yang curang terhadap kami, maka dia bukan dari golongan kami.” (HR Muslim)حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ“Hak seorang Muslim atas seorang Muslim yang lain ada enam.” Ada yang bertanya, ‘Apa saja ya Rasululllah?’ Beliau menjawab,  bila kamu berjumpa dengannya ucapkan salam, jika ia mengundangmu penuhilah, jika ia meminta nasihat kepadamu nasihatilah, jika ia bersin dan memuji Allah hendaknya kamu mendoakannya, dan jika ia sakit jenguklah, dan jika ia mati antarkanlah jenazahnya….” (HR Muslim)Kedelapan, bersikap lembut terhadap Muslimin, mendoakan dan memohonkan ampun bagi mereka. Allah berfirman,“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (Muhammad: 19)مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْRasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi.” (HR Bukhari dan Muslim)Kesembilan, menyuruh mereka kepada yang makruf dan mencegah mereka dari kemungkaran, serta menasihati mereka.الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ“Agama adalah nasihat.’ Kami bertanya, ‘Untuk siapakah, ya, Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Untuk Allah, Rasul, kitab-kitab, pemimpin kaum Muslimin, dan untuk mereka semua.’” (HR Muslim)مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ“Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangan; maka apabila tidak mampu hendaklah (ia lakukan) dengan lisannya; dan apabila tidak mampu, hendaklah (ia lakukan) dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR Muslim)Kesepuluh, tidak mencari-cari aib dan kesalahan kaum Muslimin serta membeberkan rahasia mereka kepada musuh-musuh Islam.“…dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan mereka…” (Al-Hujurat: 12)Kesebelas, bergabung ke dalam jamaah kaum Muslimin dan tidak berpisah dengan mereka.“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(An-Nisa: 115)Keduabelas, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2) Allahu A’lam——-0)(0 ——-

Loyalitas Dalam Islam (Al-Wala’) (bag. 3)

Sumber: www.dakwatuna.comKonsep al-wala’ -loyalitas- dalam akidah Islam harus dipahami oleh setiap muslim apabila ingin benar-benar menegakkan nilai-nilai Islam dalam ruang kehidupannya. Muslim yang tidak mengenal dan memahami akidah ini akan terombang-ambing dalam gelombang al-wala’ yang tidak jelas, bahkan ia akan menjadikan musuh-musuh Islam sebagai kekasih-kekasihnya.Kalimat syahadat terdiri nafi (la) manfi (ilaha), itsbat (illa) danmutsbit (Allah)1. Laa Ilaha Illa Allah.a. Laa (tidak ada – penolakan)Kata penolakan yang mengandung pengertian menolak semua unsur yang ada di belakang kata tersebut.b. Ilaha (sembahan – yang ditolak)Sembahan yaitu kata yang ditolak oleh laa tadi, yaitu segala bentuk sembahan yang bathil (lihat A3). Dua kata ini mengandung pengertian bara’ (berlepas diri).c. Illa (kecuali – peneguhan)Kata pengecualian yang berarti meneguhkan dan menguatkan kata di belakangnya sebagai satu-satunya yang tidak ditolak.d. Allah (yang diteguhkan atau yang dikecualikan)Kata yang dikecualikan oleh illa. Lafzul Jalalah (Allah) sebagai yang dikecualikan.Dalil:Q.16: 36, inti dakwah para Nabi adalah mengingkari sembahan selain Allah dan hanya menerima Allah saja sebagai satu-satunya sembahan.Q.4: 48, 4: 116, bahaya menyimpang dari Tauhid. Syirik merupakan dosa yang tidak diampuni.Q.47: 19, dosa-dosa manusia diakibatkan kelalaian memahami makna tauhid.Q.7: 59,65,73, beberapa contoh dakwah para nabi yang memerintahkan pengabdian kepada Allah dan menolak ilah-ilah yang lain.Hadits. Ikatan yang paling kuat dari pada iman adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.Hadits. Bara’ng-siapa yang mencintai karena Allah,membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang karena Allah, maka ia telah mencapai kesempurnaan Iman.2. Bara’ (pembebasan).Merupakan hasil kalimat Laa ilaha illa yang artinya membebaskan diri daripada segala bentuk sembahan. Pembebasan ini berarti: mengingkari, memisahkan diri, membenci, memusuhi dan memerangi. Keempat perkara ini ditunjukkan pada segala ilah selain Allah samada berupa sistem, konsep maupun pelaksana.Dalil:Q.60: 4, contoh sikap bara’ yang diperlihatkan Nabi Ibrahim AS dan pengikutnya terhadap kaumnya. Mengandung unsur mengingkari, memisahkan diri, membenci dan memusuhi.Q.9: 1, sikap bara’ berarti melepaskan diri seperti yang dilakukan oleh Rasul terhadap orang-orang kafir dan musyrik.Q.47: 7, sikap bara’ adalah membenci kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan.Q.58: 22, sikap bara’ dapat diartikan juga memerangi dan memusuhi meskipun terhadap familinya. Contohnya Abu Ubaidah membunuh ayahnya, Umar bin Khattab membunuh bapa saudaranya, sedangkan Abu Bakar hampir membunuh putranya yang masih musyrik. Semua ini berlangsung di medan perang.Q.26: 77, Nabi Ibrahim menyatakan permusuhan terhadap berhala-berhala sembahan kaumnya.3. Hadam (penghancuran).Sikap bara’ dengan segala akibatnya melahirkan upaya menghancurkan segala bentuk pengabdian terhadap tandingan-tandingan maupun sekutu-sekutu selain Allah, apakah terhadap diri, keluarga maupun masyarakat.Dalil:Q.21: 57-58, Nabi Ibrahim berupaya menghancurkan berhala-berhala yang membodohi masyarakatnya pada masa itu. Cara ini sesuai pada masa itu tetapi pada masa Rasulullah, Rasul Saw menghancurkan akidah berhala dan fikrah yang menyimpang terlebih dahulu. Setelah fathu Mekkah, kemudian 360 berhala di sekitar Ka’bah dihancurkan oleh Rasul.4. Al Wala’ (loyalitas).Kalimat Illa Allah berarti pengukuhan terhadap wilayatulLlah (kepemimpinan Allah). Artinya: selalu mentaati, selalu mendekatkan diri, mencintai sepenuh hati, dan membela, mendukung dan menolong. Semua ini ditujukan kepada Allah dan segala yang diizinkan Allah seperti Rasul dan orang yang beriman.Dalil:Q.5: 7, 2: 285, Iman terhadap kalimat suci ini berarti bersedia mendengar dan taat.Q.10: 61,62, jaminan Allah terhadap yang menjadi wali (kekasih) Allah karena selalu dekat kepada Nya.Q.2: 165, wala’ kepada Allah menjadikan Allah sangat dicintai, lihat 9: 24.Q.61: 14, sebagai bukti dari wala’ adalah selalu siap mendukung atau menolong dien Allah.5. Al Bina (membangun).Sikap wala’ beserta segala akibatnya merupakan sikap mukmin membangun hubungan yang kuat dengan Allah, Rasul dan orang-orang mukmin. Juga berarti membangun sistem dan aktivitas Islam yang menyeluruh pada diri, keluarga, maupun masyarakat.Dalil:Q.22: 41, ciri mukmin adalah senantiasa menegakkan agama Allah.Q.24: 55, posisi kekhilafahan Allah peruntukkan bagi manusia yang membangun dienullah.Q.22: 78, jihad di jalan Allah dengan sebenarnya jihad adalah upaya yang tepat membangun dienullah.6. Ikhlas.Keikhlasan yaitu pengabdian yang murni hanya dapat dicapai dengan sikap bara’ terhadap selain Allah dan memberikan wala’ sepenuhnya kepada Allah.Dalil:Q.98: 5, mukmin diperintah berlaku ikhlas dalam melakukan ibadah.Q.39: 11,14, sikap ikhlas adalah inti ajaran Islam dan pengertian dari Laa ilaha illa Allah.7. Muhammad Rasulullah.Konsep Wala’ dan Bara’ ditentukan dalam bentuk:Allah sebagai sumber. Allah sebagai sumber wala’, dimana loyalitas mutlak hanya milik Allah dan loyalitas lainnya mesti dengan izin Allah.Rasul sebagai cara (kayfiyat). Pelaksanaan Wala’ terhadap Allah dan Bara’ kepada selain Allah mengikuti cara Rasul.Mukmin sebagai pelaksana. Pelaksana Wala’ dan Bara’ adalah orang mukmin yang telah diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah.Dalam pelasaksanaan Bara’, Rasulullah memisahkan manusia atas muslim dan kafir. Hizbullah dengan Hizbus Syaithan. Orang-orang mukmin adalah mereka yang mengimani Laa ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah sedangkan orang kafir adalah mereka yang mengingkari salah satu dari dua kalimah syahadat atau kedua-duanya.Orang-orang beriman wajib mengajak orang kafir kepada jalan Islam dengan dakwah secara hikmah dan pengajaran yang baik. Apabila mereka menolak, kemudian menghalangi jalan dakwah maka mereka boleh diperangi sampai mereka mengakui ketinggian kalimah Allah.Hubungan kekeluargaan seperti ayah, ibu, anak tetap diakui selama bukan dalam kemusyrikan atau maksiat terhadap Allah.Dengan demikian pelaksanaan Wala’ dan Bara’ telah ditentukan caranya. Kita hanya mengikut apa yang telah dicontohkan Rasulullah Saw.Dalil:Q.5: 55-56, Allah, Rasul dan orang-orang mukmin adalah wali orang yang beriman.Q.4: 59, ketaatan diberikan hanya kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri dari kalangan mukmin.Q.5: 56, orang-orang yang memberikan wala’ kepada Allah, Rasul dan orang-orang mukmin adalah Hizbullah (golongan Allah), lihat pula 58: 22. Selain golongan ini adalah Hizbus Syaithan.Q.60: 7-9, kebolehan bergaul dengan orang kafir dengan batas-batas tertentu. Asbabun Nuzul ayat ini berkaitan dengan Asma binti Abu Bakar yang tidak mengizinkan ibunya masuk rumahnya sebelum mendapat izin dari Rasulullah, lihat pula 31: 15PenutupOleh karena itu, konsep al-wala’ dalam akidah Islam harus dipahami oleh setiap Muslim apabila ingin benar-benar menegakkan nilai-nilai Islam dalam ruang kehidupannya. Muslim yang tidak mengenal dan memahami akidah ini akan terombang-ambing dalam gelombang samudera al-wala’ yang tidak jelas, dan ia akan menjadikan musuh-musuh Islam sebagai kekasih-kekasihnya. Akhirnya, ia cenderung mendukung apa saja yang dilakukan musuh-musuh Islam dan membenci bahkan menyalahkan kaum Muslimin, seperti kasus Ambon, Poso, Palestina, dan yang lainnya. Maka, dengan memahami konsep al-wala’ semakin jelaslah posisi yang hak dan batil: mana yang menjadi musuh dan mana yang menjadi sahabat; mana yang menjadi lawan dan mana yang menjadi kawan. Wallahu a’lam bish-shawwab.——-oO0 ———

Mahabbah

Mahabbatullah ( Mencintai Allah )

Mahabbatullah ( Mencintai Allah )

Hakikat Cinta:

Cinta yang mengikuti syari'at — dasarnya iman (QS. 3:15 , 52:21 ,3:170 )

Cinta yang tidak mengikuti syari'at — dasarnya syahwat (QS.3:14 , 80:34-37 , 43:67 )

Ciri-ciri Cinta:
Selalu mengingat-ingat (QS. 8:2 )
Mengagumi (QS. 1:1 )
Ridha /rela (QS. 9:61 )
Siap berkorban (QS.2:207 )
Takut(QS. 21:90 )
Mengharap(QS. 21:90 )
Menaati(QS. 4:80 )

Tingkatan Cinta:

Cinta menghamba —hanya dengan Allah —untuk menyembah atau mengabdikan diri (QS. 2:21 )

Mesra —dengan Rasulullah dan Islam —untuk diikuti

Rasa rindu —dengan Mukminin (keluarga atau jamaah)— untuk saling kasih sayang dan saling mencintai (QS. 48:29 , 5:54 ,55 dan 56 )

Curahan hati — untuk kaum Muslimin umumnya — untuk persaudaraan Islam

Rasa simpati — pada manusia umumnya — untuk dida'wahi

Hubungan hati — hanya dengan benda-benda — untuk memanfaatkan

Kelaziman Cinta:

A. Menghasilkan loyalitas (wala):
Mencintai siapa-siapa yang dicintai Kekasih

Mencintai apa saja yang dicintai Kekasih

B. Melepaskan diri (bara'):

Membenci siapa saja yang dibenci Kekasih

Membenci apa saja yang dibenci Kekasih

Kamis, 05 Juni 2014

������������������
��..Tafakur menjelang tidur��

�� 6 persoalan hidup mnrt Al-Ghozali ��

��Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu ia bertanya kepada mereka, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi menurut Imam Ghozali yang paling dekat dengan manusia adalah “mati”. Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Lihat QS. Ali Imran ayat 185)

��Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”. Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “masa lalu”. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

��Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu” (Al A’Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

��Pertanyaan keempat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?”. Ada yang menjawab dengan jawaban, baja, besi, dan gajah. “Semua jawaban hampir benar,” kata Imam Ghozali, “tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 72.

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

⚽Pertanyaan yang kelima adalah, “Apa yang paling ringan di dunia ini?”. Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan sholat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan solat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.

��Lantas pertanyaan ke enam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang… Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

������������������

Ada tausiyah dahsyat nih


Ma’al ikhwah (Bersama Saudara)


Terhadap sesama ikhwah, kita pun dituntut untuk memiliki adab yang benar dalam berinteraksi. Beberapa hal di bawah ini penting diwujudkan dalam interaksi dengan sesama ikhwah agar suasana ukhuwah benar-benar tercipta,

1. Selalu husnuz zhan (bersangka baik) dan bahkan berusaha mencarikan alasan untuk membelanya jika ada orang lain yang menghujat ikhwah kita.

2. Memperlihatkan mahabbah atau rasa cinta pada mereka dan berusaha menahan emosi atau memaklumi kebodohan-kebodohan mereka.

3. Mendoakan mereka ketika kita berpisah atau sedang tidak bersama mereka.
Dalam hadis disebutkan doa seorang muslim untuk saudaranya ketika berpisah atau sedang tidak bersamanya mustajab.

Di sisi kepalanya ada malaikat yang setiap kali ia berdoa untuk saudaranya meminta kebaikan berkata malaikat: Amin dan bagimu hal yang seperti itu pula..

4. Tanashur, tolong-menolong sesama ikhwah sebagai realisasi ukhuwah.
“Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim atau dizhalimi,” yakni engkau menghalanginya dari berbuat kezhaliman atau membebaskannya dari keteraniayaan.

5. Mengakui dan menghargai bantuan mereka di waktu lapang dan sempit, serta merasakan dan menyadari bahwa kekuatannya, tidak dapat bergerak dengan sendirinya tanpa andil dan bantuan ikhwah lainnya seperti problem yang dialami dalam masalah maisyah, penyimpangan atau terkena fitnah.

6. Tidak menyukai atau tidak rela jika saudaranya berada dalam bahaya dan bersegera berbuat untuk mencegah atau menolak dan menyelamatkan saudaranya tersebut dari bahaya.

7. Memberikan tadhiyah (pengorbanan) terhadap sesama ikhwah.

Hasan Basri, ”Tidak ada yang kekal dalam kehidupan ini, kecuali tiga hal; Pertama saudaramu yang kau dapati berkelakuan baik. Kedua apabila engkau menyimpang dari jalan kebenaran ia meluruskanmu dan mencegahmu dari keburukan. Tidak ada seorang pun selainnya yang mengontrolmu. Ketiga shalat berjamaah menghindarkanmu dari melupakannya dan meraih ganjarannya.”

Uhibbukum Fillah...