Naila dan ibu berangkat selepas sholat Subuh, di luar masih gelap.
Ayah hanya bisa mengantar sampai terminal dengan menggunakan mobil kantor.
"Nai itu bis yang akan kita tumpangi sudah ada," kata ibu memecah suasana hening dalam mobil.
Selama di mobil tak ada suara mengobrol, semua fokus pada pikiran masing-masing yang berkecamuk sepanjang jalan.
"Oh iya bu, sudah datang, ayah kita berhenti dekat bis saja ya?" Pinta Naila pada sang ayah.
"Baik Nai, ayah akan mencari parkiran yg tidak jauh dari bis," sahut ayah.
Tak lama, mobil mendapatkan tempat parkir, Naila, ibu dan ayah segera turun untuk mengambil barang-barang di bagasi.
Ayah membantu memindahkan ke bagasi bis.
Setelah semua selesai, Naila cium tangan ayah dan memeluk erat sang ayah.
"Kamu disana hati-hati ya, harus bisa jaga diri," kata ayah.
"Iya ayah, Nai akan selalu ingat pesan ayah," jawab Nai.
Ibupun melakukan hal yang sama dengan Nai, mencium tangan ayah dan memeluk erat seolah akan terpisah lama.
Bis yang ditumpangi Naila dan ibu rupanya sudah penuh jadi tidak bisa memilih tempat duduk.
Alhamdulillah ada 2 bangku kosong di belakang, Naila memilih dekat kaca agar bisa melihat pemandangan sepanjang jalan.
Naila sangat menikmati perjalanan karena banyak hal baru yang dilihat, Naila dan ibu tidak pernah pergi sejauh ini, antar provinsi.
Perjalanan sesekali diselingi tidur dan berhenti untuk istirahat sekadar ke kamar mandi, makan dan sholat.
Perjalanan memakan waktu belasan jam dengan istirahat. Naila tidak pernah membayangkan kalau langkahnya saat itu akan menentukan titik balik perjalanan hidupnya yang mengharu biru tiada henti.
#NailaPart5
#TantanganMenulisHarike3
#TantanganMenulisGurusiana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar