Waktu kecil suka merhatiin alm bapak lagi sholat, kalau lihat bapak bawaannya kasihan karena sudah kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Dulu sering membayangkan bagaimana jika kehilangan bapak, saya merasa belum siap jika ditinggal bapak.
Entah mengapa ada pikiran seperti itu dalam benak ini, intinya saya memang sayang sama bapak dan ibu.
Bapak yang kehidupannya sangat sederhana sejak masih kecil, harus berbagi tugas dengan saudara-saudaranya.
Bapak yang harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk bisa sekolah di kota. Tambah sedih kalau ingat cerita bapak.
Perjuangan hidupnya sangat terasa hingga tua karena tidaklah bergelimang harta, semua cukup sesuai penghasilan pegawai negeri di masa itu.
Jatah beras yang jauh dari kata bagus, uang gaji yang dipotong pinjaman namun bapak mampu menghidupi kami semua.
Tentu saja peran ibu sangat penting dalam mengatur jatah buat sehari-hari.
Alhamdulillah kami 5 bersaudara bisa sekolah baik di negeri maupun swasta tapi ada yang unik dimana kami tiap bulan menerima uang buat ongkos tanpa ada uang jajan.
Kalau mau jajan kami harus hemat naik angkot dulu baru bisa jajan, misal kami rela jalan kaki supaya bisa jajan.
Pernah saya dan almh adik jalan kaki ke mall supaya bisa jajan, kami jalan bolak balik tanpa merasa letih karena senang saja.
Jarak yang seolah dekat padahal jauh, jika membayangkan saat ini, betapa kuatnya kami kala itu.
Anak kecil yang masih SD jalan kaki tanpa ada rasa takut, kami jalan di pinggiran saja tak ada kata nyebrang, menyusuri jalan trotoar yang sampai saat ini masih ada dan kokoh walau sudah puluhan tahun, lebih dari 35 tahun yang lalu.
Rupanya apa yang dialami bapak, kamipun mengalaminya dan harus banyak bersyukur.
#Bapak
#TantanganMenulisHarike22
#TantanganMenulisGurusiana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar