Senin, 12 Mei 2014

Salim A Fillah

Cinta Bersujud di Mihrab Taat

oleh Salim A. Fillah dalam
Inspirasi, Rajutan Makna , Sirah.

Julaibib, begitu dia biasa
dipanggil. Sebutan ini
sendiri mungkin sudah
menunjukkan ciri jasmani
serta kedudukannya di
antara manusia; kerdil dan
rendahan.
Julaibib. Nama yang tak biasa dan
tak lengkap. Nama ini, tentu
bukan dia sendiri yang
menghendaki. Tidak pula
orangtuanya. Julaibib hadir ke
dunia tanpa mengetahui siapa
ayah dan yang mana bundanya.
Demikian pula orang-orang,
semua tak tahu, atau tak mau tahu
tentang nasab Julaibib. Tak
dikenal pula, termasuk suku
apakah dia. Celakanya, bagi
masyarakat Yatsrib, tak bernasab
dan tak bersuku adalah cacat
kemasyarakatan yang tak
terampunkan.
Julaibib yang tersisih. Tampilan
jasmani dan kesehariannya juga
menggenapkan sulitnya manusia
berdekat-dekat dengannya.
Wajahnya yang jelek terkesan
sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam.
Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya
lusuh. Kakinya pecah-pecah tak
beralas. Tak ada rumah untuk
berteduh. Tidur sembarangan
berbantalkan tangan, berkasurkan
pasir dan kerikil. Tak ada
perabotan. Minum hanya dari
kolam umum yang diciduk dengan
tangkupan telapak. Abu Barzah,
seorang pemimpin Bani Aslam,
sampai-sampai berkata tentang
Julaibib, ”Jangan pernah biarkan
Julaibib masuk di antara kalian!
Demi Allah jika dia berani begitu,
aku akan melakukan hal yang
mengerikan padanya!”
Demikianlah Julaibib.
Namun jika Allah berkehendak
menurunkan rahmatNya, tak satu
makhlukpun bisa menghalangi.
Julaibib berbinar menerima
hidayah, dan dia selalu berada di
shaff terdepan dalam shalat
maupun jihad. Meski hampir
semua orang tetap
memperlakukannya seolah dia
tiada, tidak begitu dengan Sang
Rasul, Sang rahmat bagi semesta
alam. Julaibib yang tinggal di
shuffah Masjid Nabawi, suatu hari
ditegur oleh Sang
Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa
Sallam. ”Ya Julaibib”, begitu
lembut beliau memanggil,
”Tidakkah engkau menikah?”
”Siapakah orangnya Ya
Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang
mau menikahkan putrinya dengan
diriku ini?”
Julaibib menjawab dengan tetap
tersenyum. Tak ada kesan
menyesali diri atau menyalahkan
takdir Allah pada kata-kata
maupun air mukanya. Rasulullah
juga tersenyum. Mungkin memang
tak ada orangtua yang berkenan
pada Julaibib. Tapi hari
berikutnya, ketika bertemu
dengan Julaibib, Rasulullah
menanyakan hal yang sama.
”Wahai Julaibib, tidakkah engkau
menikah?” Dan Julaibib menjawab
dengan jawaban yang sama.
Begitu, begitu, begitu. Tiga kali.
Tiga hari berturut-turut.
Dan di hari ketiga itulah, Sang
Nabi menggamit lengan Julaibib
kemudian membawanya ke salah
satu rumah seorang pemimpin
Anshar. ”Aku ingin”, kata
Rasulullah pada si empunya
rumah, ”Menikahkan puteri
kalian.”
”Betapa indahnya dan betapa
berkahnya”, begitu si wali
menjawab berseri-seri, mengira
bahwa Sang Nabi lah calon
menantunya. ”Ooh.. Ya
Rasulallah, ini sungguh akan
menjadi cahaya yang
menyingkirkan temaram dari
rumah kami.”
”Tetapi bukan untukku”, kata
Rasulullah. ”Kupinang puteri
kalian untuk Julaibib.”
”Julaibib?”, nyaris terpekik ayah
sang gadis.
”Ya. Untuk Julaibib.”
”Ya Rasulullah”, terdengar helaan
nafas berat. ”Saya harus meminta
pertimbangan isteri saya tentang
hal ini.”
”Dengan Julaibib?”, isterinya
berseru. ”Bagaimana bisa?
Julaibib yang berwajah lecak, tak
bernasab, tak berkabilah, tak
berpangkat, dan tak berharta?
Demi Allah tidak. Tidak akan
pernah puteri kita menikah
dengan Julaibib. Padahal kita
telah menolak berbagai
lamaran..”
Perdebatan itu tak berlangsung
lama. Sang puteri dari balik tirai
berkata anggun. ”Siapakah yang
meminta?”
Sang ayah dan sang ibu
menjelaskan.
”Apakah kalian hendak menolak
permintaan Rasulullah? Demi
Allah, kirim aku padanya. Dan
demi Allah, karena
Rasulullah lah yang meminta,
maka tiada akan dia membawa
kehancuran dan kerugian
bagiku.” Sang gadis shalihah lalu
membaca ayat ini;
an tidaklah patut bagi
lelaki beriman dan
perempuan beriman,
apabila Allah dan RasulNya
telah menetapkan suatu
ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan lain tentang
urusan mereka. Dan
barangsiapa mendurhakai
Allah dan Rasul-Nya maka
sungguhlah dia telah sesat,
sesat yang nyata. (QS Al
Ahzab [33]: 36)
Dan Sang Nabi dengan tertunduk
berdoa untuk sang gadis shalihah,
” Allahumma shubba ‘alaihima
khairan shabban.. Wa la taj’al
‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya
Allah, limpahkanlah kebaikan atas
mereka, dalam kelimpahan yang
penuh berkah. Janganlah Kau
jadikan hidupnya payah dan
bermasalah..”
Doa yang indah.
Sungguh kita belajar dari Julaibib
untuk tak merutuki diri, untuk tak
menyalahkan takdir, untuk
menggenapkan pasrah dan taat
pada Allah dan RasulNya. Tak
mudah menjadi orang seperti
Julaibib. Hidup dalam pilihan-
pilihan yang sangat terbatas. Kita
juga belajar lebih banyak dari
gadis yang dipilihkan Rasulullah
untuk Julaibib. Belajar agar cinta
kita berhenti di titik ketaatan.
Meloncati rasa suka dan tak suka.
Karena kita tahu, mentaati Allah
dalam hal yang tak kita suka
adalah peluang bagi gelimang
pahala. Karena kita tahu,
seringkali ketidaksukaan kita
hanyalah terjemah kecil
ketidaktahuan. Ia adalah bagian
dari kebodohan kita.
Isteri Julaibib mensujudkan
cintanya di mihrab taat. Ketika
taat, dia tak merisaukan
kemampuannya.
Memang pasti, ada batas-batas
manusiawi yang terlalu tinggi
untuk kita lampaui. Tapi jika kita
telah taat kepada Allah, jangan
khawatirkan itu lagi. Ia Maha
Tahu batas-batas kemampuan diri
kita. Ia takkan membebani kita
melebihinya. Isteri Julaibib telah
taat kepada Allah dan RasulNya.
Allah Maha Tahu. Dan Rasulullah
telah berdoa. Mari kita ngiangkan
kembali doa itu di telinga. ”Ya
Allah”, lirih Sang Nabi,
”Limpahkanlah kebaikan atas
mereka, dalam kelimpahan yang
penuh barakah. Janganlah Kau
jadikan hidupnya payah dan
bermasalah..”
Alangkah agungnya! Urusan kita
sebagai hamba memang taat
kepada Allah. Lain tidak! Jika kita
bertaqwa padaNya, Allah akan
bukakan jalan keluar dari
masalah-masalah yang di luar
kuasa kita. Urusan kita adalah
taat kepada Allah. Lain tidak.
Maka sang gadis menyanggupi
pernikahan yang nyaris tak
pernah diimpikan gadis manapun
itu. Juga tak pernah terbayang
dalam angannya. Karena ia taat
pada Allah dan RasulNya.
Tetapi bagaimanapun ada
keterbatasan daya dan upaya
pada dirinya. Ada tekanan-
tekanan yang terlalu berat bagi
seorang wanita. Dan agungnya,
meski ketika taat ia tak
mempertimbangkan
kemampuannya, ia yakin Allah
akan bukakan jalan keluar jika ia
menabrak dinding karang
kesulitan. Ia taat. Ia bertindak
tanpa gubris. Ia yakin bahwa
pintu kebaikan akan selalu
terbuka bagi sesiapa yang
mentaatiNya.
Maka benarlah doa Sang Nabi.
Maka Allah karuniakan jalan
keluar yang indah bagi semuanya.
Maka kebersamaan di dunia itu
tak ditakdirkan terlalu lama.
Meski di dunia sang isteri
shalihah dan bertaqwa, tapi
bidadari telah terlampau lama
merindukannya. Julaibib lebih
dihajatkan langit meski tercibir di
bumi. Ia lebih pantas menghuni
surga daripada dunia yang
bersikap tak terlalu bersahabat
kepadanya. Adapun isterinya,
kata Anas ibn Malik, tak satupun
wanita Madinah yang
shadaqahnya melampaui dia,
hingga kelak para lelaki utama
meminangnya.
Saat Julaibib syahid, Sang Nabi
begitu kehilangan. Tapi beliau
akan mengajarkan sesuatu kepada
para shahabatnya. Maka Sang
Nabi bertanya di akhir
pertempuran, “Apakah kalian
kehilangan seseorang?”
“Tidak Ya Rasulallah!”, serempak
sekali. Sepertinya Julaibib
memang tak beda ada dan
tiadanya di kalangan mereka.
“Apakah kalian kehilangan
seseorang?”, beliau Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi.
Kali ini wajahnya merah bersemu.
“Tidak Ya Rasullallah!” Kali ini
sebagian menjawab dengan was-
was dan tak seyakin tadi.
Beberapa menengok ke kanan dan
ke kiri.
Rasulullah menghela nafasnya.
“Tetapi aku kehilangan Julaibib”,
kata beliau.
Para shahabat tersadar.
“Carilah Julaibib!”
Maka ditemukanlah dia, Julaibib
yang mulia. Terbunuh dengan
luka-luka, semua dari arah muka.
Di seputaran menjelempah tujuh
jasad musuh yang telah dia
bunuh.
Sang Rasul, dengan tangannya
sendiri mengafani Sang Syahid.
Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa
Sallam menshalatkannya secara
pribadi. Ketika kuburnya digali,
Rasulullah duduk dan memangku
jasad Julaibib, mengalasinya
dengan kedua lengan beliau yang
mulia. Bahkan pula beliau ikut
turun ke lahatnya untuk
membaringkan Julaibib. Saat
itulah, kalimat Sang Nabi untuk si
mayyit akan membuat iri semua
makhluq hingga hari berbangkit.
“Ya Allah, dia adalah bagian dari
diriku. Dan aku adalah bagian
dari dirinya.”
YA, Pada kalimat itu;
tidakkah kita
cemburu?
sepenuh cinta,
Salim A. Fillah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar